Sejarah sastra
Indonesia periode 1953-1961 mengalami krisis sastra dan adanya sastra majalah.
1. Krisis
Sastra Indonesia
Setelah Chairil Anwar meninggal
dunia, lingkungan kebudayaan ‘Gelanggang Seniman Merdeka’, seakan-akan
kehilangan vitalitas. Asrul Sani yang beberapa lamanya asik meniulis esai,
sudah jarang sekali menulis sajak atau hasil sastra lainnya. Demikian pula
Rivai Apin padahal kedua orang itu tadinya dianggap sebagai tumpuan- harap yang
akan melanjutkan kepeloporan Chairil.
Pada bulan April 19532 di Jakarta
diselenggarakan sebuah simposion tentang “kesulitan-kesulitan zaman peralihan
sekarang”. Dalam simposion yang diselenggarakan oleh golongan-golongan
kebudayaan Gelanggang, Lekra, Liga Komponis, PEN-Club Indonesia dan Pujangga
Baru itu telah dibahas kesulitan-kesulitan zaman peralihan, ditinjau dari sudut
sosiologi psikologi, dan ekonomi. Di antara para pembaca adalah St. Sjahrir,
Moh. Said, Mr. Sjafrudin Prawiranegra, Prof. Dr Slamet Iman Santoso, Dr J.
Ismael, S. Takdir Alisjahbana, Boejoeng Saleh, dan lain-lain. Dalam simposion
itu dilontarkan istilah “krisis akhlak”, “krisis ekonomi” dan berbagai krisis
lainnya.
Tahun 1953, di Amsterdam
diselenggarakan sebuah simposion tentang kesusastraan Indonesia. Antara lain
berbicara dalam simposion itu Asrul Sani, S. Takdir Alisjahbana, Prof. Dr.
Wertheim dan lain-lain. Di sinilah untuk pertama kali dibicarakan tentang “impasse”
(kemacetan) dan “krisis sastra Indonesia sebagai akibat dari gagalnya revolusi
Indonesia”. Tetapi persoalan tentang krisis baru menjadi bahan pembicaraan yang
ramai betul ketika terbit majalah Konfrontasi pada pertengahan tahun
1954. Dalam nomer pertama majalah itu dimuat sebuah esai Sudjatmoko (lahir di
Sawahlunto tanggal 10 Januari 1922) berjudul ‘Mengapa Konfrontasi”. Dalam
karangan itu secara tandas dikatakan oleh penulisnya bahwa sastra Indonesia
sedang mengalami krisis.
2. Sastra Majalah
Roman-roman karangan Pramoedya
Ananta Toer yang dalam tahun-tahun 1950-51-52-53 selalu muncul dengan
judul-judul baru, tebal-tebal pula, dielakkan oleh para penuduh itu dengan alas
an bahwa roman-roman itu ditulis Pram dalam penjara, jadi sebelum tahun 1950.
Sejak tahun 1953, Balai Pustaka yang
sejak zaman sebelum perang merupakan penerbit utama buat buku-buku sastra,
kedudukannya tidak menentu. Penerbit ini yang bernaung dibawah kementrian P.P
dan K.
Maka aktivitas sastra terutama hanya
dalam majalah-majalah saja seperti Gelanggang/ Siasat, Mimbar Indonesia,
Zenith, Pudjangga Baru dan lain-lain. Karena sifat majalah maka
karangan-karangan yang mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpen dan
karangan-karangan lain yang tidak begitu panjang. Sesuai dengan yang dibutuhkan
oleh majalah-majalah, maka tak anehlah jika para pengarangpun lantas hanya
mengarang cerpen, sajak dan karangan-karangan lain yang pendek-pendek.
Keadaan seperti itulah yang
menyebabkan lahirnya istilah “sastra majalah”. Istilah ini pertama kali
dilansirkan oleh Nugroho Notosusanto dalam tulisannya “situasi 1954” yang tadi
sudah disebut, dimuat dalam majalah kompas yang dipimpinnya.
Pada masa sekitar persoalan “krisis
kesustraan Indonesia” diramaikan orang, ada pula persoalan lain yang menjadi
pokok perhatian pada peminat sastra. Yaitu, persoalan lahirnya angkatan sesudah
angkatan ’45, atau sesudah angkatan Chairil Anwar. Dalam simposion sastra yang
diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1955, Harijadi
S. Hartowardojo memberikan sebuah prasaran yang berjudul ‘puisi Indonesia
sesudah Chairil Anwar
Dalam simposion sastra yang dieselenggarakan di Jakarta pada
tahun 1960, Ajip Rosidi memberikan sebuah prasaran tentang ‘Sumbangan
Angkatan Terbaru Sastrawaan Indonesia Kepada Perkembangan Kesustraan
Indonesia’/ dalam prasaran itu dicoba untuk mencari cirri-ciri yang membedakan
angkatan tebaru dengan angkatan ’45.
Lebih lanjut dalam prasaaran itu
dikemukakan bahwa setiap budaya para sastrawan yang tergolong pada ‘angkatan
baru’ merupakan sintensis dari pada dua sikap ekstrim mengenai konsepsi
kebudayaan Indonesisa. Yang pertama adalah, sikap yang berpendapat bahwa
kebudayaan nosional Indonesia itu merupakan persatuan dari puncak-puncak
kebudayaan daerah. Yang kedua adalah sikap yang berpendapat bahwa kebudayaan
Indonsia adalah mendunia dan mempersetan kebudayaan daerah. Maka sikap
sintesisnya adalah Kebudayaan Nasiaonal Indonesia akan berkembang berdasarkan
kenyataan-kenyataan dalam masyarakat Indonesia masa kini, yaitu adanya
kebudayaan daerah dan adanya pengaruh dari luar.
Dalam seminar kesusastraan yang
diselenggarakan Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1963. Nugroho
menekankan pada kenyataan bahwa para pengarang yang aktif mulai menulis pada
period 1950 adalah mereka yang telah mempunyai “sebuah tradisi Indonesia
sebagai titik tolak”. Sifat imitatif dari Belanda atu Eropah berkurang.
Dalam hal ini peranan majalah Kisah (1953-1956), tak bisa dibilang
kecil, karena banyak para pengarang yang muncul dalam periode ini mengemukakan
tulisannya yang mula-mula dalam majalah ini. Atau banyak pula pengarang yang
sudah menulis sebelum tahun 1953, kemudian mendapat kesempatan berkembang
sebaik-baiknya dalam majajalah Kisah.
Beberapa pengarang yang ada pada
periode 1953-1961 diantaranya ada:
1. Nugroho
Notosusanto
2. A.A.
Navis
3. W.S.
Rendra
4. N.H.
Dini
5. Nasjah
Djamin