Kamis, 25 April 2013

Sejarah Sastra Periode 1953-1961


  Sejarah Sastra Indonesia Periode 1953-1961
Sejarah sastra Indonesia periode 1953-1961 mengalami krisis sastra dan adanya sastra majalah.
1.      Krisis Sastra Indonesia
            Setelah Chairil Anwar meninggal dunia, lingkungan kebudayaan ‘Gelanggang Seniman Merdeka’, seakan-akan kehilangan vitalitas. Asrul Sani yang beberapa lamanya asik meniulis esai, sudah jarang sekali menulis sajak atau hasil sastra lainnya. Demikian pula Rivai Apin padahal kedua orang itu tadinya dianggap sebagai tumpuan- harap yang akan melanjutkan kepeloporan Chairil.
            Pada bulan April 19532 di Jakarta diselenggarakan sebuah simposion tentang “kesulitan-kesulitan zaman peralihan sekarang”. Dalam simposion yang diselenggarakan oleh golongan-golongan kebudayaan Gelanggang, Lekra, Liga Komponis, PEN-Club Indonesia dan Pujangga Baru itu telah dibahas kesulitan-kesulitan zaman peralihan, ditinjau dari sudut sosiologi psikologi, dan ekonomi. Di antara para pembaca adalah St. Sjahrir, Moh. Said, Mr. Sjafrudin Prawiranegra, Prof. Dr Slamet Iman Santoso, Dr J. Ismael, S. Takdir Alisjahbana, Boejoeng Saleh, dan lain-lain. Dalam simposion itu dilontarkan istilah “krisis akhlak”, “krisis ekonomi” dan berbagai krisis lainnya.
            Tahun 1953, di Amsterdam diselenggarakan sebuah simposion tentang kesusastraan Indonesia. Antara lain berbicara dalam simposion itu Asrul Sani, S. Takdir Alisjahbana, Prof. Dr. Wertheim dan lain-lain. Di sinilah untuk pertama kali dibicarakan tentang “impasse” (kemacetan) dan “krisis sastra Indonesia sebagai akibat dari gagalnya revolusi Indonesia”. Tetapi persoalan tentang krisis baru menjadi bahan pembicaraan yang ramai betul ketika terbit majalah Konfrontasi pada pertengahan tahun 1954. Dalam nomer pertama majalah itu dimuat sebuah esai Sudjatmoko (lahir di Sawahlunto tanggal 10 Januari 1922) berjudul ‘Mengapa Konfrontasi”. Dalam karangan itu secara tandas dikatakan oleh penulisnya bahwa sastra Indonesia sedang mengalami krisis.

2.      Sastra Majalah
Roman-roman karangan Pramoedya Ananta Toer yang dalam tahun-tahun 1950-51-52-53 selalu muncul dengan judul-judul baru, tebal-tebal pula, dielakkan oleh para penuduh itu dengan alas an bahwa roman-roman itu ditulis Pram dalam penjara, jadi sebelum tahun 1950.
Sejak tahun 1953, Balai Pustaka yang sejak zaman sebelum perang merupakan penerbit utama buat buku-buku sastra, kedudukannya tidak menentu. Penerbit ini yang bernaung dibawah kementrian P.P dan K.
Maka aktivitas sastra terutama hanya dalam majalah-majalah saja seperti Gelanggang/ Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, Pudjangga Baru dan lain-lain. Karena sifat majalah maka karangan-karangan yang mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpen dan karangan-karangan lain yang tidak begitu panjang. Sesuai dengan yang dibutuhkan oleh majalah-majalah, maka tak anehlah jika para pengarangpun lantas hanya mengarang cerpen, sajak dan karangan-karangan lain yang pendek-pendek.
Keadaan seperti itulah yang menyebabkan lahirnya istilah “sastra majalah”. Istilah ini pertama kali dilansirkan oleh Nugroho Notosusanto dalam tulisannya “situasi 1954” yang tadi sudah disebut, dimuat dalam majalah kompas yang dipimpinnya.
Pada masa sekitar persoalan “krisis kesustraan Indonesia” diramaikan orang, ada pula persoalan lain yang menjadi pokok perhatian pada peminat sastra. Yaitu, persoalan lahirnya angkatan sesudah angkatan ’45, atau sesudah angkatan Chairil Anwar. Dalam simposion sastra yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1955, Harijadi S. Hartowardojo memberikan sebuah prasaran yang berjudul ‘puisi Indonesia sesudah Chairil Anwar
Dalam simposion sastra yang dieselenggarakan di Jakarta pada tahun 1960, Ajip Rosidi memberikan sebuah prasaran tentang ‘Sumbangan  Angkatan Terbaru Sastrawaan Indonesia Kepada Perkembangan Kesustraan Indonesia’/ dalam prasaran itu dicoba untuk mencari cirri-ciri yang membedakan angkatan tebaru dengan angkatan ’45.
Lebih lanjut dalam prasaaran itu dikemukakan bahwa setiap budaya para sastrawan yang tergolong pada ‘angkatan baru’ merupakan sintensis dari pada dua sikap ekstrim mengenai konsepsi kebudayaan Indonesisa. Yang pertama adalah, sikap yang  berpendapat bahwa kebudayaan nosional Indonesia itu merupakan persatuan dari puncak-puncak kebudayaan daerah. Yang kedua adalah sikap yang berpendapat bahwa kebudayaan Indonsia adalah mendunia dan mempersetan kebudayaan daerah. Maka sikap sintesisnya adalah Kebudayaan Nasiaonal Indonesia akan berkembang berdasarkan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat Indonesia masa kini, yaitu adanya kebudayaan daerah dan adanya pengaruh dari luar.
Dalam seminar kesusastraan yang diselenggarakan Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1963. Nugroho menekankan pada kenyataan bahwa para pengarang yang aktif mulai menulis pada period 1950 adalah mereka yang telah mempunyai “sebuah tradisi Indonesia sebagai titik tolak”. Sifat imitatif dari Belanda atu Eropah berkurang.
Dalam hal ini peranan majalah Kisah (1953-1956), tak bisa dibilang kecil, karena banyak para pengarang yang muncul dalam periode ini mengemukakan tulisannya yang mula-mula dalam majalah ini. Atau banyak pula pengarang yang sudah menulis sebelum tahun 1953, kemudian mendapat kesempatan berkembang sebaik-baiknya dalam majajalah Kisah.
Beberapa pengarang yang ada pada periode 1953-1961 diantaranya ada:
1.      Nugroho Notosusanto
2.      A.A. Navis
3.      W.S. Rendra
4.      N.H. Dini
5.      Nasjah Djamin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar